beberapa hari yang lalu, saya berhubungan dengan Ari Rusyadi-nya Mocca via email. Ya, dia itu sutradara film dokumenternya Mocca. Mendengar kabar kalau mereka sedang sibuk roadshow ke berbagai kota untuk mempromosikan filmnya ini, saya tertariklah untuk mengajak mereka screening di UI. Kebetulan kita punya fasilitas Cinema Room di Kristal Ilmu Pengetahuan yang baru dibangun itu.
Jadi, anggaplah saat ini saya menjadi penanggung jawab screening Mocca ini. ternyata tidak mudah jadi seorang penanggung jawab acara. Konsep acaranya harus matang benar dan harus memikirkan perlengkapan serta banyaknya dana yang dibutuhkan, belum lagi publikasi yang harus baik.
Tidak jadi masalah kalau semua tugas tadi dibagi-bagi dengan rekan lain sesuai porsi dan keahlian mereka masing-masing. Lain soal kalau kamu adalah single fighter.
Sebelum ini saya selalu jadi staff. Bidang Dekorasi. Sekalinya jadi Penanggung Jawab, cuman Penanggung Jawab dekorasi untuk acara paguyuban yang scope-nya kecil dan di tingkat universitas saja dengan peserta teman-teman sedaerah. Kedua kalinya saya jadi penanggung jawab adalah acara Bazaar untuk roadshow dan bedah kampus, lagi-lagi di daerah bersama paguyuban tercinta. Saat menjadi penanggung jawab Bazaar ini lah saya mulai merasakan tanggung jawab pertama saya. Berat sekali rasanya waktu itu. Memikirkan barang-barang yang harus dijual, serta mencari penjual untuk mengisi lahan bazaar. Sedih ketika mengingat cuma ada satu penjual yang akhirnya deal dengan kami. harus saya akui memang saat itu waktu untuk mempersiapkan acara benar-benar sempit. sering sekali saya berniat untuk mundur saja seperti teman-teman saya yang lain. Tapi rasa tanggung jawab dan kesetiakawanan saya menang sehingga saya masih harus bertahan hingga acara selesai dan pascaacara. Waktu itu juga saya single fighter. tidak ada staff, tidak ada deputi. Benar-benar sendirian. Sampai kemudian ada satu anak yang kebetulan berasal dari daerah Bukittinggi, tempat acaranya dilangsungkan, yang sial direkrut oleh saya. Saya benar-benar terbantu berkat dia dan seorang temannya.
saya benar-benar buta soal bagaimana menjadi anak divisi acara yang baik. memang saya pernah masuk divisi acara saat Bedah Kampus Universitas Indonesia. Tapi bahkan rasanya kami lebih seperti anak tiri di divisi tersebut. Seringkali disuruh-suruh oleh bidang acara lain untuk mempersiapkan dekorasi yang indah buat bidang mereka sampai jobdesc kami sendiri terbengkalai. Akhirnya memang keperluan acara lain ini terpenuhi, namun kami tetap dipersalahkan oleh dana membengkak yang dibutuhkan. Padahal, hey, kalau mau jahat kami bisa kok tidak usah buatkan propertinya. Memang bukan kami yang buat, tapi vendor. Ada kendala kecil di tengah persiapan menjelang acara. Koordinatornya sakit selama sebulan, dia memang sudah berjuang terlalu keras, bermalam-malam ia tidak tidur. Wakil koordinatornya terhambat masalah akademis dimana ia telah berkali-kali tidak ikut ujian sehingga harus susulan.
Disitu saya mulai bisa bersimpati, baru bersimpati saja, akan sulitnya tanggung jawab seorang pemimpin.
Nah kembali lagi ke acara Mocca ini. saya butuh dukungan. saya tau teman-teman saya akan mendukung saya. Tapi mereka belum muncul. mereka belum mendeklarasikan dukungan mereka tersebut secara langsung. Saya butuh tukar pikiran dengan orang-orang lain. Dan email dari Ari ini masih belum saya balas padahal sudah lewat satu hari.
Saya butuh teman-teman saya demi berhasilnya acara Pemutaran dan Diskusi Film Dokumenter Mocca "Life Keeps On Turning" ini. Seorang penanggung jawab perlengkapan, satu tim pencari dana, seorang pembangun relasi media dan publikasi, juga satu tim pengkonsep acara. Itu. Juga sebuah keajaiban Tuhan yang dapat melancarakan segala usaha.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar