Senin, 08 Oktober 2012

H-12 Hari

Sekarang sudah tanggal 9 Oktober. Aku hanya perlu bertahan 12 hari lagi sampai hari pertaruhan kita tiba. Sekuat apa aku menghadapimu? Semampu apa aku bertahan ada di sampingmu?

Pertanyaan yang sesungguhnya jauh ada di balik itu semua. KENAPA aku mau repot-repot? Apa yang coba kubuktikan? Cinta kah? Pengorbanan kah?

Kalau memang cinta, aku sendiri bahkan belum yakin cinta ini ada di antara kita. Apalagi pengorbanan. Mana mungkin ia muncul tanpa dipicu perasaan dalam apapun lebih dulu?

Sebenarnya ini masalah moral. Nilai-nilai moral dalam diriku selalu berontak tiap kali kau meragukan dirimu sendiri. Kau ragu dapat terlepas dari traumamu. Kau ragu karena sifat bawaanmu selalu membuat siapapun yang ada di dekatmu tak tahan dan akhirnya menjauh.

Pesimisme-mu ini sungguh harus dilawan, sayang. Kalimat yang tadinya aku tujukan pada diriku sendiri.

Aku tak percaya ada orang yang hidupnya lebih mengasihani diri sendiri dibanding aku. Kenapa orang sekuatmu harus tidak percaya diri pada kekuatanmu sendiri? Pada pesona kuat yang ada padamu?

Aku bahkan tak punya apapun yang dapat aku pertaruhkan nanti 12 hari yang akan datang. Akupun tak memiliki keinginan apa-apa yang akan kutuntut darimu sekiranya aku menang, dan pembuktianku nyata adanya.

Kamu cuma perlu percaya pada dirimu sendiri dulu. Ya, aku tahu aku tak pantas berbicara begini karena sendirinya akupun bukan orang yang percaya diri. Tapi setidaknya aku menikmati ketidakpercayaan diriku. Aku berusaha menerimanya sebagai apa yang kuanggap sudah menjadi sebagian diriku yang kubawa dari kecil.

Mungkin nanti, 12 hari lagi, aku akan memintamu menghargaiku sedikit. Sedikit saja. Tapi bagaimana mungkin kamu bisa melakukannya kalau bahkan kamu tak menghargai dirimu, sayang? Kamu itu berharga. Kenyataan bahwa saat ini kamu ada, hadir, dan nyata di dunia ini, adalah hal berharga yang sepatutnya disyukuri oleh orang di sekitarmu. Termasuk aku.

Satu lagi, saat ini mungkin kamu seperti menyia-nyiakan aku. Aku maklum, sangat maklum. Karena bahkan kamu menyia-nyiakan dirimu sendiri. Buat apa? Apa yang pernah coba kamu buktikan tapi kemudian gagal? Apakah kegagalanmu dengan pasangan jiwamu di masa lampau menjadikanmu harus berhenti membuat pembuktian lain? Kamu tidak selemah ini! Bangunlah, tampar dirimu sendiri kalau perlu. Tidak ada yang sia-sia di dunia.

Kalau kamu membaca tulisan ini, tolong, jangan terlalu terbawa perasaan. Aku memang adanya aku, yang mencoba bijaksana dengan segala sisi keibuan dalam diriku. Terima saja. Atau kalau tak bisa, mari saling berbalik dan berharap saja ada kesempatan lain untuk kita bisa bertemu dan mengulang cerita masa lalu, masa lalu dimana kamu gagal memiliki aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar