Sabtu, 22 September 2012

Aku bosan

Selamat siang, Hapsoro Pramudito.
Ini aku, sang lagu Nina Bobo-mu. Aku sudah mengirimi mu dua pesan, dua direct messages, satu mention, dan dua missed calls. Aku tak tau kamu kemana dan kenapa. Tapi aku yakin kamu tak mau mendengar kelanjutan kalimatku, ini akan mulai menyeramkan.

Tertanggal 31 Agustus kamu masuk ke hidupku, agak sedikit dengan kekerasan karena aku menangis malam itu, bukan karena kamu. Lebih karena keadaanku yang sebenarnya tidak menginginkan penyusup. Siapa yang mau?

Dalam rumah hati ini, kamu telah tinggal dua minggu lebih. Baru sebentar saja, memang. Tapi rumah ini sudah menerima kedatanganmu, sudah menyambut dengan suka cita setiap kunjunganmu ke dalamnya.

Kini aku tak akan lagi bisa membiarkanmu keluar. Di sini bagian menyeramkan itu muncul. Biarlah aku dianggap wanita penyihir yang mengurung pangeran di menaranya. Kamu menjelma sandera hatiku.

Aku tahu pasti kamu cerdik dan punya sekian ribu cara untuk meloloskan diri. Tapi, tolong, setidaknya, berbaik hatilah pada si penyihir wanita kesepian ini.

Jika memang kamu ingin pergi, lakukan dengan sederhana dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Lakukan atas seizinku. Dengan kata perpisahan dan maaf. Aku janji tak akan ada air mata terlibat.

Salam sayang, Penyihir Jahat Angin Utara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar